Sajak dan Ucapanmu

“Sajak itu tak berbau, tak juga berbentuk. Tapi mampu menyayat hati, seperti ucapanmu yang menyayat hatiku !” Ujarnya kepada seorang lelaki tinggi yang kini mulai berjalan meninggalkannya.

Sabtu dini hari, ia mendapatkan pesan elektronik dari sang lelaki yang sudah beberapa bulan ini tak pernah lagi mengabarinya. “Hai apa kabar ? maaf jika aku mengganggu waktu tidurmu”. Ia hanya duduk termangu dengan dahi yang mengernyit melihat isi pesan yang baru saja tiba di handphonenya itu. Ia mencoba tak menghiraukan pesan tersebut dan beranjak kembali ke tempat tidurnya.

Siang itu kala hari minggu, bel rumahnya berbunyi berulang-ulang kali hingga ia jemu mendengar dentingan dari bel tersebut. Ia kemudian mengintip dari sela jendela melihat siapa pengganggu waktu istirahatnya, dan ternyata laki-laki yang beberapa bulan lalu telah mencampakkannya datang kembali dihadapan pintu rumahnya sembari terus memencet bel.

“Ada apa ?” ujarnya dari dalam rumah tanpa membuka pintu sedikitpun untuk lelaki tersebut. “Uumm, sebenarnya aku hanya ingin meminta maaf kepadamu. Sepertinya ucapanmu dimalam itu ada benarnya”. “Ucapan yang mana, aku sudah lupa !” gertaknya dengan nada rendah. Sebenarnya mana mungkin ia melupakan semua itu dengan mudah, tentu saja ia hanya mengada-ada berharap lelaki yang kini ada didepan pintu rumahnya itu segera pergi. “Aku tahu kamu pasti membenciku, dan itu wajar hanya saja…” belum rampung ucapan lelaki itu ia mulai angkat suara dan memotong kalimat tersebut.

“Kau tahukan, jika perasaan wanita itu sangatlah rapuh ? Tidak, aku tidak pernah membencimu atas semua ucapanmu kala itu. Aku justru bersyukur jika kau sudah mengerti maksud dari perkataanku tersebut. Hei andai saja malam itu kau tidak mengucapkan kata pisah dengan mudahnya, mungkin lubang kekecewaan ini takan melebar luas. Sungguh semua itu hanyalah kata-kata yang sepele, namun sangat menyayat hati. Bagaikan sajak yang selama ini ku buat namun sepertinya tak kau baca. Kau anggap tak penting bukan ? Apa kau membacanya ? Apa kau membaca sajak-sajak yang selalu kukirimkan untukmu ? Jika iya, apakah hatimu tersayat oleh sajak yang mampu mengutarakan rasa kasih, rindu, kecewa, amarah, dan perasaan lainnya itu ? Sajak itu bukan benda yang memiliki tingkat kebauan atau keharuman. Sajak juga bukan benda yang memiliki bentuk dan ketajaman. Namun sajak itu mampu menyayat hati si pembaca jika si pembaca betul memahaminya bukan ?
Ya seperti ucapanmu tentang berakhirnya hubungan kita. Aku sangat memahami ucapanmu tersebut, dan itu sungguh menyayat luka teramat dalam dihatiku kala itu.”

“Maafkan aku yang terlambat menyadari semuanya. Perihal sajak, aku baru membuka dan membacanya sebelum aku mengirimkan pesan kepadamu di tempo hari lalu. Uummm, sepertinya betul ujaranmu. Sajak itu sungguh menyayat hatiku, ketika aku membacanya aku langsung mengerti ternyata sedalam itu kau menyayangi diriku dan berusaha menyeimbangi segala kekuranganku ini. Tanpa sadar air mataku mulai jatuh dan setelah itu aku mengirim pesan tersebut padamu.”
Begitu banyak kata maaf yang terlontarkan dari bibir lelaki itu yang masih setia berdiri didepan pintu yang tak dibukakan oleh sang pemilik. Mereka menyadari bahwa memang tak ada lagi kesempatan untuk meneruskan komitmen yang telah usang. Tak ada lagi alasan untuk dapat menyatukan kedua insan itu kembali. Tak ada lagi hasrat untuk bersama meski puing-puing akan kasih dan sayang masih tersisa didalam relung hati keduanya. Tak ada lagi hal yang dapat diselamatkan dari hubungan mereka yang sudah hancur. Karena memang pada dasarnya kaca yang retak telah terjatuh.

“Hei, Terimakasih sudah menerima pembicaraan ini meski kau tak menyambut kehadiranku disini. Mungkin ini saatnya aku pergi dari sini, aku takut jika semakin lama aku berada disini akan semakin muak juga dirimu dengan semua kata maafku. Uumm, selamat tinggal dan sampai jumpa jika kita dipertemukan lagi” Perlahan lelaki itu membalikkan badan dan melangkah menjauh dari pintu yang masih tertutup rapat itu.

Ia melihat kepergian sang lelaki yang pernah sangat ia cintai, ia hanya mampu menahan air matanya agak tak tumpah begitu banyak. Ia masih memandangi punggung lelaki itu yang perlahan semakin menjauh dan tak terlihat lagi dari jendela rumahnya. Seketika ia berkata dengan lirih “Selamat tinggal, semoga kau segera menemukan kebahagiaanmu begitu pula denganku” kemudian disusul dengan suara tangis yang terisak-isak.

–Nurul Fitri Bachria Sa’adah, Jakarta (04/11/2019) 01:09 WIB

Diterbitkan oleh Fitri Bachria

Hanya seorang mahasiswa pendidikan geografi di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta. Hanya manusia biasa, bukan manusia spesial apalagi sempurna.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai