Kini Tak Seindah Dulu


Mengapa sesuatu yang sudah lalu selalu lebih indah daripada hal yang kini kita jalani ?

 “Huft kelas ini lagi, Ruang ini lagi. Membosankan” Gumamnya didalam hati kemudian masuk kedalam kelas yang masih kosong tak berisi siapapun.

 Ia telah lupa kapan terakhir kali ia merasa hari-harinya sangat bersemangat dan bermakna. Ia mulai duduk di salah satu bangku yang terletak dipinggir tengah kelas yang menghadap ke jendela. Iapun mulai menatap keluar kelasnya yang berada di lantai 5 sebuah gedung Universitas. Seketika terdengar suara tawa dari depan pintu kelas yang sangat familiar ditelinganya. “Hahahahah” masuklah dua orang laki-laki kedalam kelas itu. Ia menatap ke arah kedua laki-laki tersebut, tatapannya seketika berubah menjadi nanar. Ia sangat geram dan kesal mendengar tawa yang sangat berisik dari kedua laki-laki tersebut. “Masih pagi, hariku sudah dihancurkan oleh tawa berisik dan tingkah konyol dari orang itu” geramnya didalam hati.

Jam pelajaran telah usai, iapun mulai membereskan semua buku yang berada diatas bangkunya kedalam tas, dan kemudian mengambil handphonenya. “Nanti siang kita mau makan dimana sayang ?” suara laki-laki itu terdengar kembali ditelinganya. Suara yang sangat familiar dan hampir saja membuatnya ingin muntah. Ia menatap sinis ke bagian belakang kelas, terlihat sepasang kekasih yang sedang bermestraan yang membuatnya semakin jijik dengan keadaan itu.

“Ini kelas, bukan taman. Tau tempat dong kalo mau pacaran” Ujarnya dengan ketus kemudian beranjak keluar kelas. Sebelum ia mencapai depan pintu kelas terdengar ledekan yang menyahut untuk dirinya “Bilang aja lo jealouskan ? Ya lo dulukan juga pernah suka sama doi gua, upss” dilanjutkan dengan suara tawa yang kencang. Skak! Kata-kata itu bagaikan peluru timah yang menusuk langsung kebagian dadanya. Semakin lama semakin geram dirinya dengan keadaan itu, namun ia tetap mencoba menahan amarahnya dan mulai meninggalkan kelas tersebut.

Sesampainya ia dirumah iapun masuk kedalam kamarnya, mengunci pintu kamarnya, dan menaruh tasnya dimeja belajar, ketika ia ingin membalikkan badan kearah kasur ia melihat sebuah foto yang dibingkai dengan sangat rapih. Terlihat ia dan seorang lelaki memakai seragam putih abu-abu di foto tersebut dengan pose yang sangat bahagia. Kemudian tanpa disadari air matanya mulai jatuh diujung mata. Ia pun duduk di bangku belajarnya dengan mata yang masih berkaca-kaca melihat lembaran kertas tersebut yang terbingkai rapih tersebut.

  “Andai saja waktu itu aku tak memutuskan untuk bertahan di satu Universitas dan jurusan yang sama dengannya pasti semua takkan sesakit ini” ujarnya pelan sembari mengusap air yang terus turun dari pelupuk matanya.

Ia mulai mengingat kenangan masa kecil hingga masa remaja bersama laki-laki tersebut. Lelaki tersebut adalah teman sejak kecilnya, mereka berteman sejak duduk dibangku sekolah dasar hingga kini memasuki usia dewasa. Dan benar, laki-laki itu adalah orang yang sedari pagi sudah merusak harinya dengan tawa yang kencang dan juga sikap yang menjengkelkan. Ia sudah sangat muak jika harus terus berada diruang yang sama dengan orang itu. Orang yang dulu pernah sangat dekat dengannya, orang yang dulu pernah berarti dan mewarnai hidupnya, kini menjadi orang yang sangat memuakan untuk dilihat olehnya. Ingatannya mulai mereka ulang semua kejadian yang pernah mereka lalui bersama hingga saat ini. Hingga pada satu posisi, saraf-saraf sensoriknya mulai berhenti didalam satu bayangan ketika mereka mulai mengucap janji untuk bersama. Namun apa daya kenyataan tak semanis ucapan sang lelaki kala itu. Karena janji itu sudah tak berlaku lagi ketika mereka mulai memasuki tahun kedua didunia perkuliahan. Sudah masuk 2 semester ini ia harus kuat menahan luka didalam hatinya dan rasa kesal terhadap tingkah dari kedua pasangan yang menurutnya sangat menyebalkan itu.

Didalam hatinya, ia masih sangat menyayangkan mengapa lelaki tersebut justru memilih bahagia bersama orang lain, dan bukan dirinya. Kurang sabarkah ia sampai-sampai sang pangeran tega meninggalkan ratunya hanya demi selir yang numpang lewat. Atau kurang cantikah ia, sehingga si lelaki lebih memilih merajut janji dengan wanita lain. Hingga banyak sekali kemungkinan dari sebuah pertanyaan yang kini ia pikirkan namun tak juga membuahkan jawaban yang pasti. Karena yang pasti hanyalah jawaban dari sang lelaki jika ia mau membuka mulut dan menjelaskan alasannya.

 “Zzzrrrttttt” suara getar handphonenya. Iapun mulai menghapus kembali air-air yang turun dan jatuh dari kedua matanya dan membuka pesan siapa yang masuk kedalam handphonenya. “Hei, maaf ya ganggu waktu lo. Mm gua cuma mau minta maaf nih atas ucapan pacar gua tadi siang dikelas. Gua juga mohon banget sama lo, lo jangan ada dendam ya sama gua. Ya gua bilang begini karena gua ngerasa kalo sekarang lo sinis banget sama gua dan cewe gua. Udah ya lupain aja semua masa lalu kita. Sekarang gua udah nemuin kenyamanan gua dan lo juga harus nemuin itu karena lo juga berhak bahagia. Gua masih mau ko temenan sama lo kaya dulu lagi pas kita masih kecil. Mm, yaudah deh cuma itu aja yang mau gua sampein ke lo. Sehat-sehat ya, jangan cemberut terus wkwk”

 Seketika air matanya menetes kembali, namun tak lama kemudian bibirnya mulai melengkungkan senyum. “mfftt, untuk apa juga menanam dendam” perlahan ia mulai menyadari, bahwa ia juga harus menemukan kenyamanannya sendiri meski tanpa lelaki itu. Iapun mengambil sebuah note diatas meja belajarnya kemudian ia mulai menulis sesuatu didalam notenya tersebut.

Teruntuk diriku sendiri dan semua orang yang mungkin akan membaca tulisan ini.

Untuk kita yang selalu bertanya, mengapa hal yang sudah lalu selalu lebih indah dari yang kini dijalani. Memang benar hal yang sudah lalu terasa sangat indah dan menyenangkan. Namun hidup tak selamanya berporos dengan hal yang sudah lalu. Ternyata benar kita juga berhak bahagia, namun bukan bahagia diatas luka dan kenangan dimasa lampau. Kita juga harus menemukan kenyamanan dan poros baru untuk dijadikan prioritas. Dari luka dan perasaan sakit yang dahulu pernah tertoreh, semoga aku dan kalian mampu belajar arti mengikhlaskan dan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semangat untuk bangkit dari keterpurukan dimasa lalu. Karena inilah saatnya kita mengucapkan selamat tinggal untuk hal yang telah lalu.

Salam hangat dari diriku untuk masa depan yang lebih baik.

Kemudian ia merobek kertas note yang sudah ditulis tersebut dan menempelkan tulisan itu dipintu meja belajarnya. Iapun tersenyum kembali saat melihat tulisan tersebut, dan mulai berjalan keluar meninggalkan kamarnya.




Nurul FitriBachria Sa’adah, Jakarta (09/11/2019) 03:30 WIB

Diterbitkan oleh Fitri Bachria

Hanya seorang mahasiswa pendidikan geografi di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta. Hanya manusia biasa, bukan manusia spesial apalagi sempurna.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai